Jumat, 10 Januari 2014

Tragedi



        Aku terbangun mendengar sirine ambulan. Suaranya memekakkan telinga. Bau anyir darah mengganggu hidungku. Saat mataku benar-benar terbuka. Aku baru menyadari kalau aku berbaring di atas genangan darah. Genangan darah itu tak lain berasal dari belakang kepalaku sendiri. Entah terkena apa? Aku tidak ingat. Tapi rasanya sakit sekali.
            ''Jangan bangun dulu Nak,'' kata sebuah suara yang familiar ditelingaku. Suara Bu Rahmi, istri ketua RT.
            Aku menurutinya. Sulit sekali menggerakkan tubuhku. Rasanya darah itu telah melekatkan tubuhku dengan lantai. Seperti lem. Untung saja dua orang laki-laki segera mengangkatku dengan hati-hati. Kalau tidak aku bisa muntah. Perutku sudah mual menghisap aroma darah. Meskipun itu darahku sendiri.
Sebelum dimasukkan ke mobil. Aku melihat ruang tengah berantakan. Bufet berisi gelas-gelas cantik dan perabot kaca peninggalan ibuku roboh. Kaca-kaca berserakahan di lantai. Tubuh ayah terbujur kaku di pojokan. Beberapa polisi sedang memeriksanya. Di luar rumahku sudah dipenuhi banyak orang. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Garis polisi yang dipasang, menghalangi mereka untuk semakin mendekati rumahku. Kasak kusuk tak jelas bergema diantara mereka.

                                                                                           ***

          ''Bagaimana keadaanmu Nak?'' tanya Bu  Rahmi  saat menjengukku di rumah sakit.
         ''Lebih baik Bu,'' jawabku pendek. Aku memperhatikan  Bu Rahmi. Ada gurat kasihan yang terpancar diwajahnya. 
          ''Ayah?'' tanyaku.
          ''Maaf Nak. Nyawanya tak tertolong. Ia sudah di kuburkan tadi pagi. Sekarang yang penting, kamu cepatlah sembuh. Dan mulai hari ini ibu yang akan merawatmu,'' lanjut Bu Rahmi  sambil memelukku.
         ''Kamu jangan kawatir. Polisi pasti akan mengusut pelakunya. Siapa yang mencoba merampok rumahmu,'' kata Bu Rahmi sebelum pergi.
         ''Mengusut pelakunya?'' gumamku.
          Pikiranku menerawang. Teringat dua hari yang lalu. Tiba di rumah dari tempat les, aku melihat ayah duduk dengan kedua tamunya. Tampaknya mereka bersitegang. Sampai akhirnya terdengar ayah mengusirnya. Aku buru-buru masuk ke kamar. Takut kena amarah ayah.
         Sebenarnya ayah orang tua yang baik. Ia memenuhi segala kebutuhanku. Ia juga menyekolahkanku di sekolah terbaik. Tapi semenjak ibu meninggal, ayah menjadi pemarah dan bicaranya ngelantur. 
Aku sering menjadi pelampiasan amarah ayah. Cambukan rotan di kulit, masih bisa aku terima. Tapi tidak dengan kata-kata kotornya tentang ibu.
          Malam itu saat matahari beranjak ke peraduan. Saat kodok dan jangkrik mulai menyanyikan simponi alam. Aku beradu argumen dengan ayah. Ia geram dan mengayunkan tongkat rotannya padaku. Aku tidak bisa terima kata-kata makian ayah tentang ibu. Rasa marah yang selama ini kutahan meledak dalam diriku.  Tubuhku bergetar hebat.
           ''Suami tak punya otak. Mengumpat pada istrinya yg sudah mati!!'' ejekku.
          ''Berani ya!! Jangan lari kamu!'' ayah mengejarku. Ia mulai melempar apa saja yang ada di depannya padaku.
         Aku terus menghindar. Dengan segenap tenaga kudorong bifet untuk menghalangi ayah mendekatiku. Tak kusangka bifet roboh mengenai ayah. Aku masih bisa mendengar suara dentingan isi bifet pecah, sebelum sesuatu menimpa kepalaku dan semuanya menjadi gelap.
          ''Mengusut pelakunya?'' ulangku.
          ''Bisakah? Ha ha ha!''  
           Tiba-tiba ada rasa gembira yang muncul meluap-luap di dadaku. Aku merasa bebas. Sudah tidak ada lagi ayah yang selalu menyiksaku. (Godean,6 Juni 2011)

- Dimuat di Koran Minggu Pagi Tahun 2011











Senin, 30 Januari 2012